Minggu, 24 Agustus 2008

PERAN GURU (TRAINER ?) DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Peran guru atau trainer sangat penting dan sangat menentukan keberhasilan atau ketercapaian tujuan pembelajaran sesuai dengan yang telah ditetapkan. Peran seorang guru atau trainer dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai perencana, pelaksana dan sekaligus juga sebagai evaluator.

· Perencana

Peran guru/trainer sebagai perencana dalam pembelajaran artinya guru/trainer harus mempersiapkan suatu kegiatan pembelajaran yang akan dilakukannya bersama peserta didik/audience nya. Persiapan itu meliputi tujuan, materi, media, strategi atau metodenya, dan alat evaluasi yang akan digunakan serta nara sumber, sarana prasarana seperti tempat yang akan digunakan dan jangan lupa untuk memperkirakan peristiwa khusus yang mungkin terjadi saat proses pembelajaran sedang berlangsung.

· Pelaksana
Setelah perencanaan selesai disusun maka peran Anda selanjutnya adalah sebagai pelaksana yang akan melaksanakan apa yang telah Anda rencanakan dalam kegiatan pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

· Evaluator
Pada peran guru/trainer sebagai seorang evaluator, Anda melakukan penilaian terhadap proses kegiatan belajar dan penilaian hasil kegiatan. Dalam penilaian proses kegiatan, Anda melakukan penilaian dengan melakukan observasi terhadap cara belajar peserta didik baik secara individual maupun kelompok. Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman yang dicapai oleh peserta didik secara individual maupun kelompok. Evaluasi harus mampu memberdayakan guru/trainer, dan peserta didik. Oleh karenanya guru/trainer sebagai evaluator harus melihat penilaian sebagai suatu kesempatan untuk menggambarkan pengalaman peserta didik serta sebagai alat untuk mengetahui kemajuan proses maupun belajar peserta didik dan peningkatan kemampuan serta keterampilan guru/trainer dalam melaksanakan pembelajaran.

Selain ketiga peran tersebut, guru/trainer memiliki peran lainnya yang juga tak kalah pentingnya. Peran tersebut antara lain adalah sebagai berikut..

1. Korektor
Sebagai korektor guru/trainer harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk sehingga kita dapat menilai dan mengoreksi setiap sikap, tingkah laku dan perbuatan atau tindakan peserta dan juga diri sendiri secara lebih objektif.

2. Inspirator
Sebagai inspirator kita harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar peserta didik. Pada peran ini kita harus dapat menuangkan ide-ide atau gagasan-gagasan atau melakukan inovasi pembelajaran guna kemajuan belajar dan pemahaman peserta didik.

3. Informator
Guru/trainer harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selain sejumlah materi yang telah diprogramkan sesuai perencanaan. Oleh karenanya seorang guru/trainer harus berusaha mengembangkan dirinya dengan terus belajar tentang kemajuan-kemajuan teknologi agar tidak ”gagap teknologi (gaptek)” dan memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai hal.

4. Organisator
Guru/trainer harus dapat mengelola dan mengorganisasikan kegiatan pembelajaran yang dilakukannya agar terlaksana secara efektif dan efisien. Jika kegiatan tidak dikelola dengan baik memungkinkan terjadinya kekacauan atau ketidaktepatan pencapaian tujuan dan sasaran.

5. Motivator
Guru/trainer hendaknya dapat mendorong peserta didik agar lebih bersemangat dan aktif dalam belajar mereka sendiri. Motivasi akan lebih efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan masing-masing peserta didik.

6. Inisiator
Guru/trainer harus dapat berperan sebagai pencetus ide-ide kemajuan dalam proses pembelajaran atau pengembangan diri seseorang. Pada peran ini kita juga harus mampu mengembangkan dan memberikan sumbangsih pemikiran untuk mendorong kemajuan pendidikan mulai dari lingkup yang kecil seperti dalam kelas pelatihan sampai ke tingkat yang lebih luas seperti dalam lingkup sekolah atau kantor atau yayasan maupun wilayah yang lebih luas lagi.

7. Fasilitator
Sebagai fasilitator, hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan dan memudahkan peserta didik untuk belajar dan mengembangkan dirinya, menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan, memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan dan dapat membangkitkan peserta didik untuk melakukan eksplorasi dan menyalurkan minat dan keingintahuannya secara aktif.

8. Pembimbing
Kehadiran guru/trainer dalam kegiatan pembelajaran (baik di sekolah maupun di ruang pelatihan) adalah untuk membimbing peserta didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap, yang mandiri dan bertanggung jawab. Bimbingan yang diberikan sebaiknya sesuai dengan kebutuhan setiap peserta. Guru/trainer sebaiknya tidak sepenuhnya memberikan bantuan pada setiap peserta namun harus melihat dahulu seberapa jauh peserta didik ini memerlukan bimbingan dan bantuan. Jika Anda melihat seorang peserta didik sebenarnya mampu melaksanakan tugasnya namun dia tampak malas atau enggan atau tidak mau melakukannya maka cobalah untuk bersikap tegas dengan memintanya untuk mencoba melakukannya sendiri dahulu sampai tampak bahwa sebenarnya peserta tersebut memang benar membutuhkan bantuan. Namun jangan sampai juga Anda membiarkan seorang peserta didik sampai frustrasi baru memberikan bantuan.

9. Demonstrator
Dalam kegiatan pembelajaran tidak semua materi dapat dipahami peserta didik mengingat kemampuan setiap peserta berbeda-beda. Untuk materi yang sulit dipahami, guru/trainer harus dapat memperagakannya sehingga dapat membantu peserta yang tidak/belum memahami materi tersebut.

10. Pengelola Kelas/Ruangan
Guru/trainer harus dapat mengelola kelas/ruangan tempat kegiatan belajar tersebut berlangsung dengan baik. Pengelolaan ini menunjuk pada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses pembelajaran, termasuk di dalamnya adalah pengaturan tempat duduk, ventilasi dan pengaturan cahaya dan lain-lain.

11. Mediator
Sebagai mediator yaitu peran guru/trainer sebagai penyedia media. Guru/trainer hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dan pembelajaran dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media nonmaterial maupun materiil sehingga dapat memilih dan menentukan media yang paling sesuai untuk digunakannya dalam kegiatan pembelajarannya. Selain itu sebagai mediator guru/trainer juga berperan sebagai penengah dalam proses pembelajaran khususnya saat kegiatan diskusi kelompok.

12. Supervisor
Sebagai supervisor hendaknya guru/trainer dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pembelajaran. Guru/trainer harus menguasai teknik-teknik supervisi agar dapat melakukan perbaikan terhadap kegiatan pembelajaran menjadi lebih baik. Kelebihan yang dimiliki supervisor selain kerena posisinya adalah juga karena pengalamannya, pendidikannya, kecakapannya atau keterampilan yang dimilikinya atau memiliki sifat-sifat kepribadian yang menonjol daripada orang-orang yang disupervisinya. Dengan perannya sebagai supervisor kita juga harus memiliki kesadaran untuk dapat menilai kinerjanya sendiri untuk meningkatkan kegiatan pembelajarannya.

Nah.... Sebagai seorang guru/trainer, Apakah berbagai peran tersebut sudah kita jalankan dengan baik? Atau hanya sebagian saja? Itu berpulang kembali kepada diri kita masing-masing.

Dari berbagai sumber


Salam Pendidikan!
Tatmi
Guru & Praktisi PendidikaN
BelAjar, BErdOa, BeKerjA

Selasa, 19 Agustus 2008

Kalau Ingin Kaya Janganlah Kau Jadi Guru....

Saat itu sore hari. Aku bersama teman-teman satu program studi dalam perjalanan pulang setelah melakukan kegiatan di bilangan senayan. Kami mengisi perjalanan dengan bercanda dan tertawa... maklum satu kijang bertujuh gedhe...gedhe semuanya... wah... sempit, panas, kondisi lelah dan .... mmmm baunya ngga tahan...! Sampai di jalan Arteri Pondok Indah, jalanan macet dan padat merayap.... uuuhhhh....

Ibu A: “ Wooow... rumah segedhe gini isinya apa yaa...?”
Kami semua langsung melihat keluar jendela.....
Bapak B: “ Wahhh... kalo kita sih ngga akan bisa punya rumah disini...”
Bapak C: “ Yaaa... iyalah.... mana mampu kita beli rumah disini!”
Ibu D: ”Iyaa... yaaa... biarpun kita dikasih, kita ngga akan mampu merawatnya....”
Bapak B: ” Meskipun kita nulis 1000 set soal, kayaknya tetep ngga akan kebeli deh!”
Kami semua tertawa terbahak-bahak, menertawakan nasib kami sendiri...
Bapak C: “ Nah... elo sih... milih kerjaan jadi guru! Makanya ngga bisa kaya..., coba jadi pengusaha atau jadi pejabat... pasti elo bisa tinggal di kawasan ini...” sambil menyetir bapak C menunjuk ke Bapak B....
Kami kembali terbahak....

Mmmm.... aku jadi ingat saat pertama kali masuk kuliah. Saat Ospek, Seniorku berkata sambil berteriak: “Kalian harus menyadari bahwa kalian tidak akan bisa jadi orang kaya, jika nanti lulus dari sini. Pekerjaan untuk output dari institusi ini tidak akan bisa memberikan kekayaan pada kalian....!”

Ah.... benarkah pernyataan Bapak C dan seniorku itu?

Aku berpikir dan merenung sendiri... disela-sela canda teman-temanku di mobil yang sempit dan panas.

Benar juga sih apa yang diucapkan Bapak C dan seniorku. Secara materi profesi guru memang sangat tidak menjanjikan. Profesi ini (di Indonesia) masih menjadi pilihan terakhir bagi anak bangsa ini. Coba kita tanya pada anak-anak SMA sekarang, apakah ada diantara mereka yang mau jadi guru. Pasti jawabanya hampir seragam. “Tidak!”
Ah....

Guru pada jaman penjajahan dulu adalah profesi yang sangat mulia, sangat dihargai dan sangat dihormati. Masih jarang orang yang berprofesi sebagai guru. Hanya orang-orang terpilih yang bisa menjadi guru.

Sekarang, guru merupakan profesi yang hanya dipandang sebelah mata. Gajinya kecil (sering dipotong ini itu yang ngga jelas pula), pekerjaannya banyak (mulai dari merencanakan, melaksanakan sampai mengevaluasi pembelajaran dan anak didiknya), tanggung jawabnya besar banget (harus minteri –memintarkan— anak didiknya, harus jadi contoh yang baik deelel deh), tuntutan masyarakat juga tinggi banget (harus sopan, pakaiannya harus rapi, ngga boleh comel –ngomong sembarangan—, ngga boleh genit dan tata krama lainnya), wah... pokoknya berat banget menyandang gelar “guru”. Jika ada guru yang kelakuannya agak menyimpang, masyarakat langsung komentar... “Ihh.... guru kok kelakuannya gitu yaa...!”. Tapi kalau ada guru yang berbuat baik, komentarnya “ ya, harus gitu dong... diakan guru!”

Tetapi....
Meskipun kondisinya demikian, ternyata banyak juga jumlah guru yang ada di negara kita ini. Menurut data (http://www.depdiknas.go.id/content.php?content=file_statistik ) jumlah guru di Indonesia lumayan banyak yang terdiri dari guru TK/RA: 178.727, Guru PLB: 13.21, Guru SD: 1.335.086, Guru SMP: 542.591, Guru SMA:.253 574, Guru SMK: 181.892, Guru SM: 435.466. Jumlah tersebut belum termasuk guru PAUD, khususnya PAUD non formal dan Dosen, ataupun guru-guru di lembaga pendidikan non formal - informal lainnya.....

Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun profesi tersebut kurang diminati, namun pada kenyataanya banyak juga orang yang mau dan ingin menjadi guru. Kita lihat saja, di lembaga yang menyelenggarakan AKTA Mengajar (sertifikat untuk mengajar). Di sana banyak sarjana atau magister dari berbagai disiplin ilmu yang bukan kependidikan dan keguruan yang mengambil program AKTA karena mereka ingin mengajar atau sudah mengajar tapi butuh SIM (Surat Ijin Mengajar) agar di legalkan jadi guru (hehehe).

Nah….Berikut ini beberapa alasan seseorang menjadi guru (ini hanya pemikiran saya... dan belum diteliti secara resmi).
· Memang bercita-cita jadi guru dari kecil
· Mencintai profesi ini sepenuh hati
· Disuruh sama orang tua
· Faktor keturunan, misalnya karena orangtuanya guru maka anaknya jadi guru juga
· Kebutuhan wilayah, misalnya disuatu wilayah tidak ada guru yang mau mengajar maka anak-anak yang sudah lulus SMA diminta mengajar di SD atau sekolah setempat
· Daripada tidak bekerja alias nganggur, lowongannya yang ada hanya guru....maka jadilah guru
· Batu loncatan, sambil menunggu pekerjaan yang lebih menjanjikan
· Hanya iseng-iseng saja (ada ngga yaa...?)

Mmmmm....Apa benar profesi guru tidak bisa membuat orang jadi kaya?

Aku ingat, setiap kali aku selesai melaksanakan pembelajaran di suatu daerah di luar Jawa. Saat pulang dengan menenteng sekardus oleh-oleh dari mahasiswa (biasanya isinya aneka kerupuk dan terasi) lalu masuk dan duduk di pesawat, aku merasa bahwa “AKU MERASA SANGAT KAYA”. Yaa... aku merasa sangat kaya! Aku lebih kaya dari Keluarga Bakrie, aku lebih kaya dari pemilik Google. Yaa... aku kaya, karena aku memiliki teman-teman guru di daerah yang tetap bertahan untuk tetap mengajar meskipun kondisinya sangat terbatas. Aku memiliki teman-teman, guru yang meskipun gajinya tidak lebih besar dari GEPENG (Gelandangan dan Pengemis) di Jakarta namun tetap setia dengan profesinya. Mereka mencintai anak-anak didiknya dengan tulus. Mereka bimbing dan didik anak-anak dengan penuh kasih sayang. Mereka tak peduli pada prasarana yang seadanya. Mereka menjadi kreatif dengan keterabatasannya. Mereka mengabdi tanpa pamrih. Mereka orang-orang yang kaya hati.

Yuuups... mereka memang SUPER HEBAT. Mereka guru-guru yang SUPER KAYA dan aku bangga mengenal dan menjadi sahabat mereka. Semangat, kehebatan dan kekayaan mereka semoga dapat menjalar, merasuk dan menerobos masuk ke dalam pori-poriku dan dengan cepat menyebar ke sekujur tubuhku hingga sampai ke ubun-ubun. Sehingga aku bertekad dan akan berusaha untuk terus belajar, untuk terus menggali ilmu dari manapun, kapanpun dan dari siapapun. Sehingga saat aku kembali ke tempat tersebut atau pergi ke daerah yang lain... aku bisa membawa “Sekeranjang oleh-oleh Pengetahuan” yang bisa kubagi untuk mereka semua. Walaupun mungkin itu hanyalah setetes air yang tak kan mungkin menghilangkan dahaga mereka. Itu hanya sebutir tepung yang tak kan bisa mengenyangkan rasa lapar mereka akan ilmu dan pengetahuan. Itu hanyalah setitik tinta yang tak mungkin mewarnai seluruh lembaran harapan mereka. Tetapi.... tak apalah.... aku akan terus berusaha, berbagi dan ikhlas.

Yaaa…. Seorang guru akan selalu berusaha menambah pengetahuan dan wawasannya dengan berbagai cara. Dia akan mencarinya dari siapapun, darimanapun dan waktu yang tak terbatas. Yups… guru adalah orang yang kaya…. Paling tidak dia telah menjadikan banyak “orang kaya” di negeri ini…. Tanpa pernah meminta imbalan dari para muridnya….

Hmmmm.... jadi.... siapa bilang jadi guru ngga akan bisa kaya?

Benar pepatah bijak mengatakan (sering banget diucapkan oleh mbah kakungku saat aku masih kecil)

“ KALAU INGIN KAYA JANGANLAH KAU MENJADI GURU, NAMUN JIKA KAU JADI GURU MAKA KAU AKAN KAYA!”.


Salam,
Untuk guru-guru TK/RA di Bangka Belitung, Teruslah Berjuang!
Untuk Iboed, Denny, Lilies, Titi, Dian, Ning.... trims inspirasinya... semoga kita tetep kompak dan ... becanda terus...



Tatmi
Guru & Praktisi PendidikaN“Do The BEST”

Kamis, 14 Agustus 2008

Menanamkan Disiplin pada Anak

Ilustrasi:
Saat pulang sekolah, Dina yang berusia 4 tahun langsung melemparkan tasnya di ruang tamu. Dia juga langsung melepaskan sepatu dan kaos kakinya dan melemparkannya di sembarang tempat. Setelah itu dia langsung berlari keluar dan bermain dengan teman-temannya yang sudah menunggunya di depan pagar rumahnya! Ibunya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memunguti perlengkapan sekolah yang bertebaran di ruang tamu. “ Ah... biarlah, Dinakan butuh istirahat dan butuh bergaul dengan teman-temannya..” Pikirnya.

Kejadian semacam itu sering sekali kita alami. Sebagai pendidik (orang tua dan guru) kita sering membiarkan perilaku anak yang kita anggap “wajar” ini. Namun jika dikaji lebih mendalam, perilaku semacam itu, jika dibiarkan maka lama kelamaan akan menjadi kebiasaan yang nantinya akan sulit untuk diperbaiki atau diluruskan kembali. Dan jika sudah menjadi kebiasaan maka kita sendiri yang akan kewalahan karena anak akan bertindak sembarangan dan semaunya sendiri. Kita sering menyebut anak-anak yang demikian sebagai anak yang tidak disiplin.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Depdiknas, 2001), disiplin adalah tata tertib (di sekolah, kemiliteran dan sebagainya); kataatan (kepatuhan) pada peraturan (tata tertib dan sebagainya) dan mendisiplinkan adalah membuat berdisiplin, mengusahakan supaya menaati (mematuhi) tata tertib. Disiplin (http://annilasyiva.multiply.com/journal/item/46) adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu system yang mengharuskan orang untuk tunduk kepada keputusan, perintah dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, disiplin adalah sikap menaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih.Lalu... sebagai pendidik, apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah seperti di atas. Berikut ini beberapa pendekatan yang dapat Anda lakukan untuk membantu anak-anak mendisiplinkan dirinya.

1. Tegas
Pendidik harus tegas dalam menerapkan aturan-aturan pada anak-anak. Jika Anda menerapkan suatu larangan maka Anda harus memberikan alasan yang masuk akal, dengan memberikan penjelasan dan bimbingan padanya. Misalnya: jika Anda menginginkan anak-anak untuk pulang tepat waktu maka Anda jangan mengatakan ” Awas lho... kalau kamu pulang kemalaman maka nanti kamu akan diculik genderuwo”.
Anda juga harus tegas dan jangan mentolerir terhadap kesalahan yang dilakukan anak. Misalnya: ” Ah... Deni kan hanya mencuri hanya satu butir permen, jadi yaa... dimaafkan sajalah atau Deni kan memukul Anto tidak keras... jadi yaa sudahlah... tidak usah dihukum”. Dalam hal ini Anda sebagai pendidik harus tetap memberikan sanksi Pada Deni namun hukumannya disesuaikan dengan tingkat kesalahannya. Selain itu, sanksi juga diberlakukan terhadap semua anggota kelas atau anggota keluarga, termasuk Anda sebagai pendidik. Jika Anda melakukan suatu kesalahan maka Anda juga layak dan harus mendapat sanksi.

2. KonsistenAnak-anak suka meniru apa yang orang dewasa lakukan.
Begitu pun jika Anda bertindak tidak konsisten atau plin-plan terhadap suatu keputusan. Misalnya, Hari ini Anda memarahi anak-anak yang melompat-lompat di atas meja tetapi pada hari lainnya Anda membiarkan saja anak-anak melompat di atas meja. Hal ini hanya akan membuat anak menjadi bingung, akibatnya mereka akan mengabaikan aturan yang telah dibuat bersama. Oleh karena itu, bersikaplah konsisten terhadap aturan-aturan yang telah Anda buat, khususnya yang Anda buat bersama anak-anak.

3. Beri Bimbingan
Jika anak mengobrak-abrik buku dari lemari atau anak-anak mengacak-acak balok dari tempatnya, maka Anda dapat mengatakan, "Maukah kamu berhenti 'bermain' buku atau balok? Ayo kita membaca buku saja atau ayo kita sama-sama membangun gedung dengan balok-balok ini!" Jika anak tak memedulikan perkataan Anda, maka dengan cara yang lembut namun tegas, Anda bisa membimbingnya ke area yang lain dan katakan padanya, dia boleh kembali bermain dengan buku atau balok jika dia mau mendengarkan kata-kata Anda dan mematuhi aturan dalam bermain buku atau balok.

4. Jangan Tunda Hukuman
Jika Anda ingin menghukum anak yang tidak disiplin, hukumlah segera setelah Anda tahu dia tidak disiplin. Jangan sampai Anda menunda memberi hukuman padanya. Sebab, anak-anak tidak akan mau menerima hukuman beruntun atau mengulangi kesalahan. Berilah hukuman yang mendidik, seperti menyapu lantai, merapikan tempat tidur, tidak main play station atau barbie. Selain itu berikan hukuman sesuai dengan kesalahannya, misalnya jika anak laki-laki lupa membawa peralatan sholat (sarung dan kopiah) pada hari jumat, maka hukuman yang diberikan misalnya menghafal salah satu Surat Pendek dari Al Quran. Hukuman ini lebih mendidik dan bermanfaat bagi anak karena menambah pengetahuannya.

5. Tetap Tenang
Jika Anda menyaksikan atau menghadapi anak yang tidak disiplin, membuat gaduh atau mengganggu temannya. Usahakan untuk tetap tenang dan jangan marah sambil berteriak, membentak, atau menceramahi anak tanpa henti. Hal ini akan menjadikan Anda orang yang melakukan tindak kekerasan verbal terhadap anak. Tindakan seperti ini justru bisa merusak rasa penghargaan diri anak terhadap Anda. Selain itu juga akan berakibat pada berkurangnya rasa percaya diri anak di hadapan Anda dan teman-temannya. Usahakanlah selalu untuk bersikap lembut dan menegur anak dengan bahasa yang halus dan sopan. Hal ini juga akan mengajarkan pada anak untuk bersikap sabar dan sopan pada semua orang.

6. Usahakan untuk bicara dalam posisi sejajar dengan anak
Saat berbicara pada anak, terutama saat memberi kritikan padanya usahakan agar posisi Anda sejajar dengannya sehingga Anda dapat menatap matanya dengan tegas. Anda dapat menekuk lutut Anda atau ambil posisi duduk di hadapannya, agar pandangan mata Anda sejajar dengannya. Dengan posisi ini anak akan menunjukkan respek terhadap Anda dan anak akan semakin menghormati dan menghargai Anda sebagai pendidik.

7. Ajak anak berdiskusi
Anda dapat mengajak anak berdiskusi dan mengobrol dengan santai tentang kesalahan yang dilakukannya. Jangan memberinya ceramah panjang lebar yang membuatnya bosan. Cobalah gulirkan pertanyaan-pertanyaan seperti, "Merokok, kan, enggak baik untuk anak-anak, ya?" Atau, "Apakah kamu suka jika temanmu mengganggu terus di sekolah, Nak?" Kritiklah sikapnya dan jangan langsung menyalahkan anak, tetapi kajilah perbuatan anak secara positif. Jika ternyata anak memang bersalah, berikan sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya. Jika anak melakukan suatu kebaikan, maka jangan segan-segan untuk memberikan pujian padanya. ” Wah... kamu pintar yaa.... kamu sudah membuang sampah di tempatnya!”

8. Tidak melakukan kekerasan atau menjanjikan hadiah
Pukulan (meskipun pelan) yang Anda lakukan pada anak dapat berpengaruh buruk bagi diri anak, juga bagi Anda sendiri. Anak yang pernah dipukul (ditampar, disabet dengan benda, atau disakiti secara fisik) oleh pendidiknya akan merasa lebih menderita, dari pada perasaan tidak dihargai atau depresi sekalipun. Tindakan ini juga dapat mengajarkan, secara tidak langung pada anak bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan dengan cara kekerasan. Selain kekerasan, sebaiknya Anda juga tidak membiasakan atau menjanjikan akan memberikan hadiah kepada anak saat Anda memintanya mengerjakan atau melarang sesuatu. Kebiasaan seperti ini dapat membuat anak tidak mau mengerjakan atau menghindari sesuatu, jika tidak diberi hadiah atau imbalan. Tetapi, jangan pula Anda mendiamkan perbuatan anak yang tidak benar. Kadang, jika kita sudah terlalu kesal atau sudah berkali-kali diberi tahu namun anak tetap mengulangi dan melakukan perbuatan tersebut, kita akan mendiamkan saja anak-anak yang berbuat demikian. Hal seperti ini sebaiknya jangan Anda lakukan, Anda harus tetap menegur atau memberitahu anak bahwa tindakannya itu tidak benar. Jangan pernah merasa bosan untuk mengingatkan anak-anak mengenai perbuatannya yang salah.

9. Bersikap sewajarnya dan jadilah contoh yang baik
Jika Anda bercanda atau bersenda gurau dengan cara melucu secara berlebihan merupakan tindakan yang salah, misalnya untuk menunjukkan rasa sayang, Anda menarik-narik rambut anak atau menggelitiki anak secara berlebihan. Bersikaplah sewajarnya sebagai orang dewasa seperti menggenggam tangannya, memeluknya, atau memberi ciuman di kedua pipi atau kepalanya. Selain itu, ingatlah bahwa anak usia dini suka meniru, oleh karenanya Anda harus dapat menjadi contoh yang baik bagi anak-anak. Jika Anda menerapkan suatu peraturan maka Anda juga harus menaati peraturan tersebut. Bertindaklah dengan bijaksana, lembut dan selalu berlaku sopan santun, karena hal ini juga akan ditiru oleh anak-anak. Jika anak selalu marah-marah, maka kemungkinan anak didik Anda juga akan sering marah-marah.

10. Menerapkan disiplin dengan konsep empati
Empati merupakan kemampuan pergaulan yang amat mendasar. Orang yang berempati akan lebih mampu menangkap sinyal yang tersembunyi tentang kebutuhan dan keinginan orang lain. Sinyal ini dapat ditangkap melalui nada suara, raut wajah, ekspresi, reaksi gerak tubuh dan hal non verbal lainnya. Empati pada anak dapat dikembangkan setiap hari melalui percakapan dan diskusi ringan dengan anak. Misalnya ” Duuh... kasihan yaaa pengamen kecil itu, harusnya dia kan sekolah yaaa?.... bagaimana pendapatmu?” percakapan semacam itu dapat mengasah empati anak. Daripada Anda menegur dengan keras atau memarahi anak dengan dengan kalimat yang tidak konstruktif, seperti ” Dasar anak bandel, senangnya mengganggu orang saja!” akan lebih efektif jika kita gali empatinya dengan kalimat yang lebih lembut, seperti ”Wah... Lisa jadi sedih karena mainannya kamu buang”.

Akhirnya, dalam kenyataan sehari-hari, banyak masalah yang berhubungan dengan disiplin sebenarnya dapat diselesaikan dengan menggunakan komunikasi timbal balik yang efektif antara anak dan orangtua. Dalam hal ini cara-cara berkomunikasi akan memegang peranan penting dalam pembentukan disiplin. Komunikasi dalam bentuk sindiran, hinaan, merendahkan harga diri orang lain hendaknya digunakan seminimal mungkin, bahkan harus dihindari sama sekali. Anak dan remaja sangatlah peka terhadap hal ini, dan dapat sakit hati karenannya. Jika cara-cara tersebut yang digunakan untuk mendisiplinkan anak, cara-cara demikian akan cenderung ditiru dalam hubungan interpersonal dengan orang-orang lain yang akibatnya dapat merugikan diri sang anak maupun orang lain.

Daftar Pustaka
Ali Nugraha dan Yeni Rahmawati, (2007). Buku Materi Pokok Metode Pengembangan Sosial Emosional. Jakarta: Universitas Terbuka.

Annilasyiva, (2008). Disiplin. http://annilasyiva.multiply.com/journal/item/46,.

Mu’tadin, Zainun, (2002). Disiplin. http://www.e-psikologi.com/remaja/290702.htm

Tim penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia (Ed.2). Jakarta: Balai Pustaka.

Tatmi
Guru & Praktisi PendidikaN
Berbagi dengan ikhlas

Diskalkulia; Gangguan Kesulitan Berhitung

Diskalkulia
Gangguan Kesulitan Berhitung

Ilustrasi:
“Ibu Dewi, orang tua Denny (4 tahun) merasa sangat gelisah karena Denny belum bisa berhitung seperti teman-temannya. Denny tampak sangat kesulitan apabila dimunta menjumlahkan dan menghitung benda-benda. Ibu Dewi kuatir, apakah Denny termasuk anak yang bodoh? Ibu Siska lain lagi masalahnya. Ia merasa sangat kuatir karena Siti (4,5 tahun) anaknya sampai saat ini belum dapat membaca jam atau belum mengenal konsep waktu. Siti sering binggung menyatakan pagi, siang atau malam, kemarin, sekarang dan besok. Ibu Siska berpikir, Apakah Siti termasuk anak yang bodoh?”

Ilustrasi tersebut menggambarkan sebagian kecil orang tua yang merasa gundah karena anaknya tidak bias berhitung atau mengenal konsep tertentu. Mereka kuatir jika anaknya termasuk dalam kategori anak yang bodoh. Hal ini disebabkan karena masyarakat memandang berhitung salah satu indicator kecerdasan seseorang. Dan berhitung juga merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seseorang karena dalam kehidupan sehari-hari kita akan selalu berhadapan dengan angka-angka atau hitungan. Selain itu, banyak sekolah (guru) yang member “label” bodoh pada anak yang tidak pandai matematika atau berhitung. Nah pembahasan kali ini akan m,engupas tentang gangguan kesulitan berhitung yang disebut Diskalkulia.

A. Apa Sebenarnya Diskalkulia Itu?
Menurut Jacinta F. Rini, M.Psi, dari Harmawan Consulting, Jakarta(Tabloid Nakita), diskalkulia dikenal juga dengan istilah "math difficulty" karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara kuantitatif yang terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung (counting) dan mengkalkulasi (calculating). Anak yang bersangkutan akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses matematis. Hal ini biasanya ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang melibatkan angka ataupun simbol matematis. Banyak anak-anak yang terdiagnosis diskalkulia memiliki riwayat kegagalan akademis yang pada akhirnya berkembang menjadi ketidakmampuan belajar matematika atau merasa tidak mampu mempelajarinya (Kontribusi dari Seputar Indonesia, 15 Maret 2007). Sumber lainnya menyebutkan bahwa diskalkulia berasal dari bahasa Yunani. Dys artinya ‘tuna’. Calculus artinya ‘kerikil’, manik, dekak, atau kelereng. Mungkin karena zaman purba orang berhitung dengan alat bantu batu kerikil maka dari sinilah istilah discalculia tersebut berasal. Artinya, sedikit bodoh dalam soal hitung-hitungan.

Diskalkulia adalah gangguan belajar yang mengakibatkan gangguan dalam berhitung. Kelainan berhitung ini meliputi kemampuan menghitung sangat rendah, tidak mempunyai pengertian bilangan, bermasalahan dalam bahasa berhitung, tidak bisa mengerjakan simbol-simbol hitungan, dan ganguan berhitungh lainnya. Bisa karena kelainan genetik atau karena gangguan mekanisme kerja di otak. Gangguan Berhitung merupakan suatu gangguan perkembangan kemampuan aritmetika atau keterampilan matematika yang jelas mempengaruhi pencapaian prestasi akademikanya atau mempengaruhi kehidupan sehari-hari anakDari penelitian para ahli ternyata diskalkulia tidak ada hubungan langsung dengan tingkat inteligensi. Penyebabnya lebih karena disfungsi bagian syaraf tertentu di otak manusia. Mengapa sampai terjadi disfungsi juga berbeda-beda sebabnya. Dalam kasus tertentu bisa saja disebabkan pada waktu kecil pernah mengalami hyperthermia atau panas tubuh terlalu tinggi sehingga harus dimasukkan ke cooling chamber. Akibatnya, mungkin terjadi cedera pada bagian syaraf otak tersebut. Diskalkulia juga ada sebagian yang sifatnya warisan turun temurun karena defeksi pada sel DNA tertentu.

Diskalkulia ada hubungannya juga dengan disleksia. Dislexia berasal dari kata Yunani. Kata dys artinya ‘tuna’; dan kata lexis artinya ‘kata’. Disleksia juga ada berbagai sebabnya. Kalau disleksia mulai saat masa anak-anak maka umumnya disebabkan oleh cedera syaraf otak bagian tertentu. Prof. Li-Hai Tan, seorang pakar linguistik dan ilmu-ilmu kognitif pada University of Hong Kong sampai pada penemuan yang menarik. Ternyata disleksia pada anak-anak yang belajar bahasa lewat aksara Latin berbeda lokasi cederanya dibandingkan dengan mereka yang belajar bahasa bercorak piktograf seperti aksara Mandarin. Keduanya memang sama-sama disebabkan oleh cedera pada syaraf otak hemisfir kiri. Tetapi berbeda lokalitasnya. Pada anak-anak pelajar aksara Latin cedera tersebut terjadi pada bagian otak temporal-parietal. Parietal, artinya bagian otak sebelah atas sampai belakang. Sedangkan pada anak-anak yang belajar aksara piktograf cedera terjadi pada bagian bawah gyrus (lipatan) otak temporal-oksipital. Temporal artinya bagian bawah; dan oksipital artinya bagian belakang (Wikipedia, Discovery Channel, www.faculty.wasington.edu; www.health.howstuffworks.com/question666.htm. JS)

B. Bagaimana Gejala atau Ciri-ciri Diskalkulia?
Penderita diskalkulia umumnya anak-anak, tetapi tidak secara spesifik menyerang tingkat usia tertentu. Gangguan ini terutama terjadi pada saat anak menginjak umur sekolah sekitar usia 7 tahun. Diskalkulia dapat terdeteksi pada usia tersebut karena pada saat itu anak mulai sekolah dan belajar berhitung.

Penderita diskalkulia umumnya memiliki IQ normal, namun ada juga yang IQ nya melebihi rata-rata atau cukup tinggi. Anak diskalkulia dapat berinteraksi normal seperti anak biasa, komunikasi dan sosialisasi dengan lingkungan di sekitarnya. Artinya dia dapat hidup dengan baik meskipun mengalami kesulitan dalam berhitung. Persoalan yang dihadapi anak dengan diskalkulia lebih pada kehidupannya sehari-hari. Seperti sulit menentukan arah ke kiri atau ke kanan, membaca jam, menghitung uang kembalian atau uang yang harus dibayarkan saat belanja. Beberapa hal berikut dapat digunakan untuk melihat gejala atau ciri-ciri diskalkulia.
1. Tingkat perkembangan bahasa dan kemampuan lainnya normal, malah seringkali mempunyai memori visual yang baik dalam merekam kata-kata tertulis.
2. Sulit melakukan hitungan matematis. Contoh sehari-harinya, ia sulit menghitung transaksi (belanja), termasuk menghitung kembalian uang. Seringkali anak tersebut jadi takut memegang uang, menghindari transaksi, atau apa pun kegiatan yang harus melibatkan uang.
3. Sulit melakukan proses-proses matematis, seperti menjumlah, mengurangi, membagi, mengali, dan sulit memahami konsep hitungan angka atau urutan.
4. Terkadang mengalami disorientasi, seperti disorientasi waktu dan arah. Si anak biasanya bingung saat ditanya jam berapa sekarang. Ia juga tidak mampu membaca dan memahami peta atau petunjuk arah.
5. Mengalami hambatan dalam menggunakan konsep abstrak tentang waktu. Misalnya, ia bingung dalam mengurut kejadian masa lalu atau masa mendatang.
6. Sering melakukan kesalahan ketika melakukan perhitungan angka-angka, seperti proses substitusi, mengulang terbalik, dan mengisi deret hitung serta deret ukur.
7. Mengalami hambatan dalam mempelajari musik, terutama karena sulit memahami notasi, urutan nada, dan sebagainya.
8. Bisa juga mengalami kesulitan dalam aktivitas olahraga karena bingung mengikuti aturan main yang berhubungan sistem skor.

Tanda-tanda lainnya yang dapat diamati, adalah:
1. Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, = 2. Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan, 3. Sering salah membilang dengan urut, 4. Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya, 5. Sulit membedakan bangun-bangun geometri. Selain gejala tersebut, diskalkulia dapat pula diamati tanda-tanda seperti berikut ini. 1. Proses penglihatan atau visual lemah dan bermasalah dengan spasial (kemampuan memahami bangun ruang). Dia juga kesulitan memasukkan angka-angka pada kolom yang tepat. 2. Kesulitan dalam mengurutkan, misalkan saat diminta menyebutkan urutan angka. Kebingungan menentukan sisi kiri dan kanan, serta disorientasi waktu (bingung antara masa lampau dan masa depan). 3. Bingung membedakan dua angka yang bentuknya hampir sama,misalkan angka 7 dan 9, atau angka 3 dan 8. Beberapa anak juga ada yang kesulitan menggunakan kalkulator. 4. Umumnya anak-anak diskalkulia memiliki kemampuan bahasa yang normal (baik verbal, membaca, menulis atau mengingat kalimat yang tertulis). 5. Kesulitan memahami konsep waktu dan arah.Akibatnya,sering kali mereka datang terlambat ke sekolah atau ke suatu acara. 6. Salah dalam mengingat atau menyebutkan kembali nama orang. 7. Memberikan jawaban yang berubah-ubah (inkonsisten) saat diberi pertanyaan penjumlahan, pengurangan, perkalian atau pembagian. 8. Kesulitan membaca angka-angka pada jam, atau dalam menentukan letak seperti lokasi sebuah negara, kota, jalan dan sebagainya 9. Sulit memahami not-not dalam pelajaran musik atau kesulitan dalam memainkan alat musik. Koordinasi gerak tubuhnya juga buruk, misalkan saat diminta mengikuti gerakan-gerakan dalam aerobik dan menari. Dia juga kesulitan mengingat skor dalam pertandingan olahraga Orang dengan diskalkulia tidak bisa merencanakan keuangannya dengan baik dan biasanya hanya berpikir tentang keuangan jangka pendek.Terkadang dia cemas ketika harus bertransaksi yang melibatkan uang (misalkan di kasir). C. Apa Penyebab Diskalkulia? Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi gangguan ini, di antaranyaadalah sebagai berikut. 1. Kelemahan pada proses penglihatan atau visual; Anak yang memiliki kelemahan ini kemungkinan besar akan mengalami diskalkulia. Ia juga berpotensi mengalami gangguan dalam mengeja dan menulis dengan tangan. 2. Bermasalah dalam hal mengurut informasi; Seorang anak yang mengalami kesulitan dalam mengurutkan dan mengorganisasikan informasi secara detail, umumnya juga akan sulit mengingat sebuah fakta, konsep ataupun formula untuk menyelesaikan kalkulasi matematis. Jika problem ini yang menjadi penyebabnya, maka anak cenderung mengalami hambatan pada aspek kemampuan lainnya, seperti membaca kode-kode dan mengeja, serta apa pun yang membutuhkan kemampuan mengingat kembali hal-hal detail. 3. Fobia matematika; Anak yang pernah mengalami trauma dengan pelajaran matematika bisa kehilangan rasa percaya dirinya. Jika hal ini tidak diatasi segera, ia akan mengalami kesulitan dengan semua hal yang mengandung unsur hitungan. D. Bagaimana Cara Penanggulangannya Diagnosa diskalkulia harus dilakukan oleh spesialis yang berkompeten di bidangnya berdasarkandan harus dilakukan melalui serangkaian tes dan observasi yang valid dan terpercaya. Bentuk terapi atau treatment yang akan diberikan harus berdasarkan evaluasi terhadap kemampuan dan tingkat hambatan anak secara detail dan menyeluruh. Bagaimanapun, kesulitan ini besar kemungkinan terkait dengan kesulitan dalam aspek-aspek lainnya, seperti disleksia. Perbedaan derajat hambatan akan membedakan tingkat treatment dan strategi yang diterapkan. Selain penanganan yang dilakukan ahli, pendidik disarankan melakukan beberapa latihan yang dapat mengurangi gangguan belajar, antara lain sebagai berikut. 1. Visualisasikan konsep matematis yang sulit dimengerti, dengan menggunakan gambar ataupun cara lain untuk menjembatani langkah-langkah atau urutan dari proses keseluruhannya. Atau suarakan konsep matematis yang sulit dimengerti dan minta si anak mendengarkan secara cermat. Biasanya anak diskalkulia tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara verbal. 2. Tuangkan konsep matematis ataupun angka-angka secara tertulis di atas kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekadar abstrak. Atau kalau perlu, tuliskan urutan angka-angka itu untuk membantu anak memahami konsep setiap angka sesuai dengan urutannya. 3. Tuangkan konsep-konsep matematis dalam praktek serta aktivitas sederhana sehari-hari sehingga menjadi lebih menarik. Misalnya, berapa jumlah pintu yang ada di rumah, berapa jumlah koleksi bonekanya, berapa jumlah kursi makan yang diperlukan jika disesuaikan dengan anggota keluarga yang ada, dan bias juga menggunakan computer atau kalkulator dan lakukanlah latihan secara berkesinambungan serta teratur. 4. Sering-seringlah mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, entah dengan cara menyanyikan angka-angka, atau cara lain yang mempermudah menampilkan ingatannya tentang angka. 5. Pujilah setiap keberhasilan, kemajuan atau bahkan usaha yang dilakukan oleh anak. 6. Lakukan proses asosiasi antara konsep yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga anak mudah memahaminya. 7. Jalin kerja sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan strategi belajar di kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misalnya, guru memberi saran tertentu pada orang tua dalam menentukan tugas di rumah, buku-buku bacaan, serta latihan yang disarankan. DAFTAR PUSTAKA Direktorat PLS Pendidikan Sekolah Luar Biasa, Depdiknas (2006), “Pengembangan Kurikulum Dalam Pendidikan Insklusif”. Jakarta: DitPLB. Daria Rani, (2008). Diskalkulia, Gangguan Kesulitan Berhitung: Kartini no.2222/10 s/d 24 Juli 2008. Jakarta: PT Ghalia Indonesia. Juswan Setyawan, (2008). “Mengenal Malfungsi Discalculia dan Dislexia” kabarindonseia.com 18 April 2008. Kontribusi dari Seputar Indonesia, (2007) Diskalkuli; Kontribusi dari Seputar Indonesia - Terakhir diperbaharui (Kamis, 15 Maret 2007) Marfuah Panji Hastuti, (….). “Mengenal Gangguan Kesulitan Belajar Diskalkulia dan Disgrafia, Tabloid Nakita (Panduan)”. http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05233-02.htm

Widodo Judarwanto, (2007). “Permasalahan Umum Kesehatan Anak Usia Sekolah” Disampaikan pada Seminar Ilmiah Populer Kesehatan Anak Usia Sekolah "School Age Parent":Milist Balita Kita.

Wikipedia, Discovery Channel, http://www.faculty.wasington.edu/; www.health.howstuffworks.com/question666.htm.JS
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=3&dn=20080418112834
http://indonesia.smksakti.sch.id/ – Situs SMK Sakti Gemolong Sragen Jawa TengahPowered by Mambo
http://www.google.co.id/search?hl=id&q=diskalkulia&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=cr%3DcountryID
http://www.ditplb.or.id/2006/index.php?menu=profile&pro=55
http://www.jokam.com/comment.php?comment.news.520



Tatmi
Guru dan Praktisi PendidikaN
Belajar darimanapun, siapapun dan kapanpun

Pengalaman Memang Guru yang Terbaik

Pepatah tersebut memang terdengar klise dan biasa saja karena terlalu seringnya kita mendengar pepatah tersebut. Namun, kisahku berikut ini membuktikan bahwa pepatah tersebut benar.

Waktu itu (tahun 1970 – an) aku masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar Negeri di bilangan Jakarta Selatan. Aku mempunyai 4 orang teman sekelas yang tinggal dalam satu kompleks, sebut saja namanya Cici, Yati, Taufik dan Maya. Hampir setiap hari kami selalu bersama, baik di sekolah maupun di rumah. Kami bermain bersama, belajar bersama, pergi dan pulang sekolah juga selalu bersama.
Setiap hari, pergi dan pulang sekolah kami naik bis jemputan. Bis ini sebenarnya adalah jemputan untuk orang tua kami yang bekerja di kantor yang sama di daerah Blok M. Bis ini mengantar bapak dan ibu kami yang bekerja pada pukul 07.00 WIB dan menjemput mereka pada pukul 14.00 WIB. Nah… bis ini dimanfaatkan untuk mengantar dan menjemput anak-anak yang bersekolah di SDN. Bis tersebut akan mengantar kami ke sekolah pada pukul 06.00 dan menjemput pukul 12.00. Kecuali pada Hari Jumat, bis ini tidak menjemput anak-anak sekolah karena pada hari itu bis menjemput pegawai pada pukul 11.30.
Nah.. peristiwa yang aku alami ini terjadi pada hari Jumat.
Pagi itu, seperti biasa aku berangkat dari rumah menuju bis jemputan. Ibu memberiku uang saku sebesar Rp.10,- dan beliau berpesan. “ Ingat, yaa… kamu harus sisakan Rp. 2,5,- untuk naik oplet, karena hari ini ngga ada jemputan”. “ Iya Bu…” Sahutku sambil mencium tangannya. Aku berlari menuju ke bis jemputan yang menunggu di suatu area di tengah kompleks. Tepat pukul 06.00 bis berangkat dan melaju dengan lancar menuju ke Sekolah.
Di sekolah tidak ada kejadian yang luar biasa ataupun istimewa, kecuali saat istirahat. Seperti biasa kami berlima main bersama. Kami jajan makanan yang sama karena jumlah uang saku kami memang sama. Kami membeli bakwan, bakso kojak (bakso yang ditusuk pakai lidi dan makannya dicelupkan ke bumbu kacang), es goyang dan es cincau. Hingga masing-masing uang kami sisa Rp.2,5,-. Tiba-tiba Cici berkata, “ Eh… kita beli rujak yuk!” “Ngga akh… nanti kan ngga ada jemputan…Jadi kita harus naik oplet”, kataku mengingatkan. “Ngga apa-apa, nanti pulangnya kita jalan kaki aja berlima! Lewat kampung…. Kan ngga panas!”, Cici terus memaksa. Akhirnya tanpa berpikir lagi kami sepakat. Uang untuk naik oplet kami belikan rujak. Wah… segarnya.
Pukul 11.30 bel berbunyi. Kelas 3 A berhamburan keluar kelas. Kami berlima bergandengan menuju gerbang sekolah. Kami siap untuk berjalan kaki bersama menuju ke rumah. Di depan pintu gerbang, tanpa sengaja Cici menemukan uang Rp. 10,- ( Koin yang kuning). Dia langsung menghitung-hitung. “Eh… uang ini Cuma bisa untuk naik oplet berempat!”. “Trus… siapa dong yang ngga diajak?” Taufik menyahut sambil memandang kami semua secara bergantian. “Kamu aja deh!, soalnya kamu yang paling kecil” Cici langsung menunjuk padaku. Wah.. aku kaget luar biasa, tetapi karena aku termasuk pendiam maka aku tidak bisa berkata apa-apa untuk menolaknya. Akhirnya… mereka berempat naik oplet dan meninggalkanku sendirian.
Selama beberapa saat aku terdiam di depan gerbang sekolah. Aku bingung. Mau jalan kaki, aku takut. Mau naik oplet, aku tak punya uang. Akhirnya dengan perasaan yang campur baur. Aku mulai melangkahkan kaki menyusuri jalan raya diringi oleh matahari yang sangat terik.
Takut, bingung, marah, sedih, kecewa, semua bercampur jadi satu dengan deraian air mataku. Aku menangis sepanjang jalan. Aku tak berani lewat kampung karena takut tersasar. Aku telusuri jalan raya yang panas. Setiap ada orang yang menegurku, aku langsung berlari. Aku takut diculik. Air mataku yang semula hanya menetes, lama-kelamaan semakin deras. Rasa kesal yang menyesak dada, lama kelamaan membuatku sesenggukkan. Namun aku berusaha untuk menahan tangisku agar tidak bersuara dan tidak diketahui orang-orang di sepanjang jalan.
Kira-kira pukul 14.00 aku hampir sampai di depan komplekku. Aku lihat pintu gerbang komplekku dari kejauhan. Di sana ada Ibuku yang berdiri dengan raut cemas dan gelisah. Begitu melihatku Ibu langsung tersenyum. Aku berlari kearahnya. Aku memeluknya. Tangisku tumpah tak terkendali. Ibu menggendongku sambil berkata, “Alhamdulillah… akhirnya kamu sampai. Sudah… sudah… sekarang kamu ngga usah sedih dan takut lagi. Sekarang sudah ada Ibu….” Aku tahu Ibu juga menangis. Ibu tak bertanya apapun padaku. Ibu tahu, jika ditanya aku pasti akan semakin meraung karena perasaan sedih dan lelah serta haus dan lapar. Ibu memang bijaksana.
Pengalaman tersebut sangat membekas di hatiku. Mungkin keempat temanku tidak ada yang mengingat kejadian tersebut. Jika mengingat saat itu pasti aku menitikkan air mata. Sedih memang, tetapi ada hikmah yang sangat besar yang aku dapatkan dan aku terapkan sampai hari ini, yaitu bahwa aku harus punya pendirian dan jangan mudah terbujuk rayuan yang belum jelas. Selain itu juga aku harus menyisihkan penghasilanku untuk hal-hal yang tak terduga. Alhamdulillah dengan cara seperti itu aku bisa menabung dan aku tak pernah mengalami kesulitan keuangan terutama pada saat-saat yang mendesak. Meskipun pada saat itu aku sangat marah namun saat ini Aku sangat berterima kasih pada teman-temanku karena telah tanpa sengaja mereka mengajarkan padaku betapa pentingnya memiliki tabungan.

Tuk: empat temanku: Cici, Yati, Taufik dan Maya…. I miss u all


Tatmi
Guru dan Praktisi PendidikaN
Belajar dan Berbagi

Keterampilan Dasar Seorang Guru (8)

8. Keterampilan Supervisi Klinis

Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan profesional guru/calon guru khususnya dalam penampilan melaksanakan pembelajaran berdasarkan analisis data secara teliti dan objektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut.

Istilah klinis dalam definisi ini menunjuk kepada unsur-unsur khusus sebagai berikut.
a. adanya hubungan tatap muka antara supervisor dan guru.
b. pemfokusan pada tingkah laku guru di dalam kelas.
c. observasi secara cermat.
d. pendeskripsian data observasi secara terperinci.
e. supervisor dan guru sama-sama menilai penampilan guru.
f. fokus observasi sesuai dengan kebutuhan dan permintaan guru.


Jadi fokus supervisi klinis adalah penampilan guru secara aktual pada saat melaksanakan pembelajaran (termasuk pula guru sebagai peserta atau partisipan aktif dalam proses supervisi tersebut).

Dari pengertian tersebut dapat diuraikan beberapa karakteristik supervisi klinis, yaitu:
a. perbaikan dalam mengajar mengharuskan guru mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan dasar keterampilan tersebut,

b. fungsi utama supervisor adalah mengajar keterampilan-keterampilan kepada guru atau calon guru, yaitu:
1) persepsi secara analisis dalam proses pembelajaran,
2) menganalisis secara rasional,
3) mengembangkan kurikulum, melaksanakan serta mencobanya,
4) penampilan mengajar.

c. Fokus supervisi klinis adalah
1) perbaikan cara mengajar bukan mengubah kepribadian guru,
2) perencanaan dan analisis merupakan pegangan
3) isu-isu mengajar
4) analisis yang konstruktif dan membari penguatan (reinforcement) pada pola-pola yang berhasil,
5) didasarkan atas bukti pengamatan

d. siklus dalam merencanakan, mengajar dan menganalisis merupakan suatu kontinuitas dan dibangun atas dasar pengalaman masa lampau,

e. supervisi klinis merupakan suatu proses memberi dan menerima yang dinamis dimana guru dan supervisor merupakan teman sejawat,


f. proses supervisi klinis berpusat pada interaksi verbal mengenai analisis jalannya pembelajaran,

g. Tiap guru mempunyai kebebasan dan tanggung jawab untuk mengemukakan pokok-pokok persoalan, menganalisis cara mengajarnya sendiri dan mengembangkan gaya mengajarnya,

h. tiap supervisor mempunyai kebebasan dan tanggung jawab untuk menganalisis dan mengevaluasi cara supervisinya sendiri.



(Habis)



Sumber:

Bolla, J.I. (1982). Supervisi Klinis. Jakarta : Depdiknas.

________. (1982). Keterampilan Mengelola Kelas. Jakarta: Depdiknas.

________. (1984). Keterampilan Bertanya Dasar dan Lanjut. Jakarta : Depdiknas.

D.N. Pah. (1984). Keterampilan Memberi Penguatan. Jakarta: Depdiknas


.G.A.K. Wardani. (1984). Keterampilan memimpin Diskusi Kelompok Kecil; Panduan Pengajaran Mikro No.6. Jakarta: Depdiknas.

______________. (1984). Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan. Jakarta: Depdiknas.

Kosasih, Raflis. (1982) Keterampilan mengadakan Variasi. Jakarta: Depdiknas.

____________. (1984). Keterampilan Menjelaskan. Jakarta : Depdiknas.




Tatmi
Guru dan Praktisi PendidikaN
Belajar, belajar dan belajar

Keterampilan Dasar Seorang Guru (7)

7. Keterampilan Melaksanakan Pembelajaran Kelompok Kecil dan Perorangan

Melaksanaan pembelajaran kelompok kecil dan perorangan terjadi dalam konteks pembelajaran klasikal. Di dalam kelas, seorang guru mungkin menghadapi banyak kelompok kecil serta banyak peserta yang masing-masing harus diberi kesempatan belajar secara kelompok maupun perorangan.

Keterampilan ini memungkinkan guru mengelola kegiatan secara efektif dan efisien serta dapat memainkan perannya sebagai:
a. organisator kegiatan pembelajaran,
b. sumber informasi bagi peserta didik,
c. pendorong bagi peserta didik untuk belajar,
d. penyedia materi dan kesempatan belajar bagi peserta didik,
e. pendiagnosa dan pemberi bantuan kepada peserta didik sesuai dengan kebutuhan,
f. peserta kegiatan yang punya hak dan kewajiban seperti peserta lainnya.

Pelaksanaan pembelajaran kelompok kecil dan perorangan masing-masing memerlukan keterampilan yang yang berkaitan dengan penanganan peserta didik dan penangaan tugas.

Keterampilan yang perlu dikuasai guru dalam kaitan ini adalah sebagai berikut.
a. Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, yang dapat ditunjukkan dengan cara:
1) kehangatan dan kepekaan terhadap kebutuhan peserta didik,
2) mendengarkan secara simpati, gagasan yang dikemukakan peserta didik,
3) memberi respon positif terhadap gagasan peserta didik,
4) membangun hubungan saling percaya,
5) menunjukkan kesiapan untuk membantu peserta didik tanpa kecenderungan mendominasi,
6) menerima perasaan peserta didik dengan penuh pengertian dan keterbukaan,
7) mengendalikan situasi agar peserta didik merasa aman.

b. Keterampilan mengorganisasi, ditampilkan dengan cara:
1) memberi orientasi umum,
2) memvariasikan kegiatan, membentuk kelompok yang tepat,
3) mengkoordinasikan kegiatan,
4) membagi perhatian, mengakhiri kegiatan dengan kulminasi berupa laporan atau kesepakatan.

c. Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar, yang ditampilkan dalam bentuk:
1) memberi penguatan yang sesuai,
2) mengembangkan supervisi proses awal dan proses lanjut
3) mengadakan supervisi pemanduan dengan cara mendekati setiap kelompok/perorangan agar mereka siap mengikuti kegiatan akhir

d. keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran, yang meliputi:
1) menetapkan tujuan pembelajaran,
2) merencanakan kegiatan belajar,
3) berperan sebagai penasihat,
4) membantu peserta didik menilai kemajuannya sendiri.

Dalam menerapkan keterampilan ini guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut.
a. Variasi pengorganisasian kelas yang disesuaikan dengan tujuan, kemampuan peserta didik, ketersediaan vasilitas, waktu serta kemampuan guru.
b. Tidak semua topik dapat disampaikan secara efektif dengan cara ini.
c. Pengejaran kelompok kecil yang efektif selalu diakhiri dengan suatu kulminasi berupa rangkuman, pemantapan, kesepakatan, laporan dan sebagainya.
d. Guru perlu mengenal peserta didik secara individual.
e. Dalam kegiatan belajar perorangan anak dapat bekerja secara bebas.


Tatmi
Guru & Praktisi PendidikaN
Belajar, belajar dan belajar

Jumat, 08 Agustus 2008

Keterampilan Dasar Seorang Guru (6)

6. Keterampilan Mengelola Kelas

Keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan dalam menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang optimal guna terjadinya proses pembelajaran yang selalu serasi dan efektif.

Guru perlu menguasai keterampilan ini agar dapat:
a. mendorong peserta didik mengembangkan tanggung jawab dalam berperilaku yang sesuai dengan tata tertib serta aktivitas yang sedang berlangsung;
b. menyadari kebutuhan peserta didik;
c. memberi respon yang efektif terhadap perilaku peserta didik.

Komponen keterampilan mengelola kelas yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah sebagai berikut.

a. keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan belajar yang optimal yang dapat dilakukan dengan cara:
1) menunjukkan sikap tanggap,
2) membagi perhatian secara visual dan verbal,
3) memusatkan perhatian kelompok,
4) memberi petunjuk yang jelas,
5) menegur secara bijaksana (tegas dan jelas bukan berupa ocehan/peringatan) dan membuat aturan,
6) memberikan penguatan bila perlu.


b. keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal. Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap respon peserta didik yang berkelanjutan, seperti: adil, menandai dan menghentikan perilaku yang menyimpang, memberi penguatan.


Beberapa prinsip yang perlu diingat dalam menerapkan keterampilan mengelola kelas, yaitu:
a. kehangatan dan keantusiasan dalam melaksanakan pembelajaran dapat menciptakan iklim kelas yang menyenangkan,
b. penggunaan kata-kata atau tindakan yang dapat menantang peserta didik untuk berpikir,
c. penggunaan berbagai variasi yang dapat menghilangkan kebosanan,
d. keluwesan guru dalam melaksanakan pembelajaran perlu ditingkatkan,
e. penekanan pada hal-hal yang positif, penanaman disiplin diri sendiri


Tatmi
Guru & Praktisi PendidikaN
Belajar, belajar dan belajar

Pagi di Puncak Sumbing

Sinarmu malu-malu menegurku
Hamparan awan putih suci bak kapas nan lembut
Harumnya udara menciumi tubuhku
Dingin....
Semilir angin mengibas rambutku yang tergerai
Mesra....

Wow...
Bongkahan batu raksasa
Bertengger indah di tiap sisimu
Bunga edelweis terhampar indah di bawah sana
Menyebar aroma menarik rindu
Mega berarak menari
Mengelilingi langit biru
Ah....
Indahnya tak terucap
Jiwa terketuk
Akan kuasa Illahi
Betapa kecil diri ini....


Puisi lama yang kutulis kembali
Lucia, Thontor dan Mas Ghantut....
Kapan bisa ke sana lagi???


Tatmi
Guru & Praktisi PendidikaN
Berbakti, Berbagi dan Ikhlas

Kamis, 07 Agustus 2008

Keterampilan Dasar Seorang Guru (5)

5. Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil

Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan tujuan berbagi pengalaman atau informasi, mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah.

Ciri-ciri diskusi kelompok kecil, adalah:
a. melibatkan 3 – 9 peserta,
b. berlangsung dalam interaksi tatap muka yang informal (setiap anggota dapat berinteraksi langsung dengan anggota lainnya),
c. mempunyai tujuan yang dicapai dengan kerjasama antar anggota,
d. berlangsung menurut proses yang sitematis.

Penggunaan kelompok kecil dalam kegiatan pembelajaran memungkinkan peserta didik untuk:
a. berbagi informasi dan pengalaman dalam memecahkan masalah
b. meningkatkan pemahaman
c. meningkatkan keterlibatan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan,
d. mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi,
e. membina kerja sama dan bertanggung jawab.

Komponen keterampilan yang perlu dimiliki oleh pemimpin diskusi kelompok kecil (guru) adalah:
a. memusatkan perhatian peserta didik,
b. memperjelas masalah atau urun pendapat,
c. menganalisis pandangan peserta didik,
d. meningkatkan partisipasi peserta didik,
e. menyebarkan kesempatan berpartisipasi,
f. menutup diskusi (merangkum hasil diskusi, tindak lanjut, mengajak peserta untuk menilai hasil diskusi)

(bersambung)


Tatmi
Guru & Praktisi PendidikaN
Do The BESt

Keterampilan Dasar Seorang Guru (4)

4. Keterampilan Menjelaskan


Menjelaskan merupakan aktivitas yang paling sering dilakukan oleh guru dalam menyampaikan informasi. Dalam kegiatan pembelajaran, menjelaskan berarti mengorganisasikan materi pembelajaran dalam tata urutan yang terencana secara sistematis sehingga dengan mudah dapat dipahami oleh peserta didik. Keterampilan menjelaskan mutlak perlu dimiliki oleh para guru.

Seorang guru harus dapat menjelaskan berbagai hal kepada peserta didiknya. Penjelasan yang disampaikan harus sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir peserta didik. Misalnya guru akan menjelaskan konsep ”atas”. Jika peserta didiknya adalah anak usia TK (4 – 5 tahun) maka dia harus menjelaskan konsep tersebut secara konkret dan nyata.

Cara yang dapat dilakukannya antara lain melalui lagu, gerakan atau contoh benda-benda yang berada di atas atau penggabungan dari cara-cara tersebut.

Contoh menjelaskan konsep ”atas” pada anak TK
Lagu: Atas itu atas
Bawah itu bawah
Atas atas bawah bawah saya tidak lupa
Kepala itu atas
Kaki itu bawah
Kepala atas
Kaki bawah saya tidak lupa
Lagu tersebut dinyanyikan sambil guru memberi contoh bergerak sesuai syair lagu dan dilakukan secara berulang-ulang.

Nah, jika cara tersebut diterapkan pada anak usia SMP atau SMA, maka peserta didik Anda, mungkin akan berkomentar: ”Emangnya gue anak kecil!” dan mungkin Anda akan dianggap sebagai guru yang ”aneh” dan tidak kompeten.

Untuk peserta didik yang sudah lebih besar (anak di atas usia dini), Anda bisa menjelaskan konsep tersebut dengan cara yang lebih abstrak. Misalnya dengan definisi ”ATAS” adalah....bla bla..bla...dan seterusnya. Hal ini dimungkinkan karena kemampuan berpikir (kognisi) anak yang sudah lebih besar sudah lebih tinggi dan mengarah ke kemampuan berpikir abstrak.

Jadi, keterampilan menjelaskan juga tidak sekedar asal menyampaikan informasi. Namun harus disesuaikan dengan audience yang kita hadapi.

Kegiatan menjelaskan bertujuan untuk:
a. membimbing peserta didik memahami konsep, hukum, prinsip atau prosedur;
b. membimbing peserta didik menjawab pertanyaan secara bernalar;
c. melibatkan peserta didik untuk berpikir;
d. mendapat balikan mengenai pemahaman peserta didik;
e. membantu peserta didik menghayati beberapa proses penalaran.

Dalam memberikan penjelasan guru perlu memahami prinsip-prinsip berikut ini.
a. Penjelasan dapat diberikan di awal, tengah ataupun akhir kegiatan belajar sesuai keperluan.
b. Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran.
c. Guru dapat memberi penjelasan dengan direncanakan sebelumnya atau bila ada pertanyaan dari peserta didik.
d. Materi yang dijelaskan harus bermakna.
e. Penjelasan harus sesuai dengan latar belakang dan kemampuan peserta didik.

Keterampilan menjelaskan terdiri dari berbagai komponen sebagai berikut.
a. Komponen merencanakan penjelasan yang mencakup:
1) isi pesan (tema) yang dipilih dan disusun secara sistematis disertai contoh-contoh,
2) penerima pesan harus dipertimbangkan karakteristiknya.

b. Komponen menyajikan penjelasan yang mencakup:
1) kejelasan, yang dapat dicapai dengan berbagai cara seperti: bahasa yang jelas, berbicara dengan lancar, mendefinisikan istilah-istilah teknis, berhenti sejenak untuk melihat respon peserta didik;
2) penggunaan contoh dan ilustrasi yang dapat mengikuti pola induktif atau pola deduktif;
3) pemberian tekanan pada bagian-bagian yang penting dengan cara: penekanan suara atau mengemukakan tujuan;
4) peserta didik diberi kesempatan untuk menunjukkan pemahaman ataupun keraguan ketika penjelasan berlangsung (balikan).

(Bersambung)


Tatmi
Guru dan Praktisi PendidikaN
"Do the BEsT"

Keterampilan Dasar Seorang Guru (3)

3. Keterampilan Melakukan Variasi

Saat ini kita sering melihat dan menyaksikan guru melaksanakan pembelajaran sambil berdiri di depan kelas dengan metode ceramah sepanjang jam belajar. Dia tampak tidak peduli dengan kondisi peserta didiknya. Apakah mereka memperhatikan, memahami, atau bahkan tak peduli dengan guru tersebut. Guru ini juga tidak peduli apakah materi yang disampaikannya dapat diterima dan diserap dengan baik oleh peserta didiknya. Targetnya hanya untuk mengejar ketercapaian kurikulum dan tugasnya selesai.

Sebagai seorang guru, harusnya kita bisa melihat (membaca) situasi dan kondisi peserta didik kita.Apakah mereka berminat dan antusias dengan materi yang kita sampaikan? Atau apakah mereka sudah tampak lelah dan bosan dengan pembelajaran yang kita lakukan? Oleh karenanya kita perlu memiliki keterampilan untuk mengadakan varisai.

Keterampilan ini diperlukan oleh guru untuk mengatasi kebosanan peserta didik. Kebosanan akan terjadi bila seseorang selalu melihat, mendengarkan, merasakan dan melakukan hal yang sama secara terus menerus. Untuk mengurangi rasa bosan yang dirasakan peserta didik, maka kegiatan pembelajaran perlu diberikan secara bervariasi.

Variasi dalam kegiatan pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi peserta didik didik serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan. Manfaat keterampilan mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran diantaranya sebagai berikut.
a. Menimbulkan dan meningkatkan perhatian.
b. Memberi kesempatan pada peserta didikuntuk mengembangkan rasa ingin tahu dan eksplorasi tentang hal-hal baru.
c. Memupuk tingkah laku yang positif bagi guru dan sekolah dengan berbagai cara pembelajaran yang lebih hidup.
d. Memberi kesempatan pada peserta didik memperoleh dan mengikuti kegiatan belajar dengan cara yang disenanginya.
e. Lebih meningkatkan keterlibatan peserta didik dengan kegiatan pembelajaran yang menarik dan terarah.

Keterampilan melakukan variasi dalam penggunaannya memiliki beberapa prinsip, yaitu:
a. variasi hendaknya digunakan dengan maksud tertentu, relevan dengan tujuan, cocok dengan kemampuan peserta didik. Variasi hendaknya dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan karena dapat menimbulkan kebingungan bahkan dapat mengganggu kegiatan pembelajaran. Misalnya: saat melaksanakan pembelajaran kita selipkan sedikit humor atau canda yang segar. Namun jangan sampai humor ini kelewat batas sehingga tujuan utama menyampaikan materi akan terlupakan dan peserta hanya mengingat bagian humornya saja;

b. variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan sehingga tidak mengganggu perhatian peserta didik dan kegiatan pembelajaran. Misalnya saat mengajar biologi tentang proses tumbuhnya tanaman. Guru ingin mengadakan varisai dengan mengajak anak-anak melakukan percobaan. Guru memberi penjelasan sebentar, lalu dia pergi keluar kelas untuk menyiapkan bahan-bahan percobaan. Hal ini tentu saja sangat mengganggu konsentrasi peserta didik. Anak-anak yang semula tampak antusias, menjadi tidak berminat lagi karena guru tersebut meninggalkan mereka cukup lama untuk menyiapkan peralatan. Jika akan melakukan hal semacam itu, sebaiknya sudah dipersiapkan sebelumnya dengan matang sehingga pembelajaran tidak tersendat dan terhenti di tengah jalan.;


c. komponen dan variasi tertentu memerlukan susunan dan perencanaan yang baik arinya secara eksplisit tercantum dalam perencanaan pembelajaran. Selain itu sebaiknya digunakan secara luwes (fleksibel) dan spontan sesuai dengan balikan yang diberikan anak saat pembelajaran berlangsung. Misalnya saat mengajar anak-anak TK yang baru masuk. Ketika anak-anak mulai menangis, kepanasan, jenuh dan bosan. Ibu guru kemudian mengambil boneka dan melanjutkan pembelajaran dengan boneka tersebut. Apakah tindakan guru terseut efektif? Tentu saja tidak. Untuk anak usia TK, saat mereka mulai tampak bosan bahkan ada yang mulai menangis maka langkah yang terbaik yang harus dilakukan adalah menghentikan kegiatan pembelajaran tersebut. Penghentian ini bisa sementara samapi anak-anak kembali siap melanjutkan pembelajaran atau bahkan dihentikan dan tidak dilanjutkan kembali. Jika waktu masih banyak maka kegiatan selanjutnya adalah yang benar-benar neyenangkan bagi anak misalnya bermain di halaman.

Komponen-komponen dalam keterampilan mengadakan variasi adalah sebagai berikut.
a. Variasi dalam gaya mengajar guru
Variasi dalam gaya mengajar guru sangat banyak sekali. Biasanya variasi ini muncul dalam komponen-komponen berikut ini
1) variasi suara termasuk di dalamnya adalah nada suara, tekanan pada suara atau kata-kata tertentu, misalnya suara menjadi lebih lambat, cepat, tinggi ataupun rendah;
2) memusatkan perhatian pada hal-hal yang dianggap penting. Biasanya cara pemusatan dengan lisan diikuti lagi dengan isyarat menunjuk gambar;
3) kesenyapan yang tiba-tiba yang disengaja ketika guru menjelaskan merupakan cara yang baik untuk menarik perhatian;
4) mengadakan kontak pandang dilakukan ketika guru berbicara atau berinteraksi dengan anak. Pandangan sebaiknya menjelajah seluruh kelas dan melihat ke mata anak-anak untuk menunjukkan hubungan yang intim dengan mereka;
5) Variasi gerakan badan dan mimik variasi dalam ekspresi wajah, gerakan kepala, gerakan badan adalah aspek yang amat penting dalam berkomunikasi;
6) Pergantian posisi guru dalam mengajar digunakan untuk mempertahankan perhatian anak didik. Pergantian posisi ini misalnya ke arah depan, samping, belakang atau kadang berdiri dan kadang-kadang duduk. Yang perlu diingat adalah variasi dipergunakan pada waktu dan maksud tertentu dan dilakukan secara wajar serta tidak berlebihan.

b. Variasi dalam penggunaan media dan bahan belajar, meliputi:
1) variasi alat/bahan yang dapat dilihat
termasuk ke dalam golongan ini adalah penggunaan benda/objek sederhana, grafik, gambar, film, televisi dan sumber-sumber diperpustakaan dan sebagainya.
2) variasi alat/bahan yang dapat didengar
Biasanya suara guru merupakan model komunikasi yang utama dalam pembelajaran. Variasi dapat dilakukan dengan merubah kualitas suara seperti keras-lemah, tinggi-rendah, cepat-lambat; atau variasi kegiatan mendengar suara guru dengan suara-suara lain seperti alat musik, radio dan sebagainya.
3) variasi alat/bahan yang dapat diraba dan dimanipulasi
Penggunaan alat/bahan yang dapat diraba dan dimanipulasi sangat membantu menarik perhatian anak. Hal ini dapat pula melibatkan anak didik dalam membentuk dan memperagakan kegiatannya baik individual maupun kelompok kecil. Alat dan bahan yang dapat digunakan misalnya spesimen (contoh) model, patung, alat mainan, mahluk hidup yang tidak berbahaya dan sebagainya.

c. Variasi pola interaksi dan kegiatan peserta didik
Pola interkasi dapat berbentuk: klasikal, kelompok dan perorangan sesuai dengan keperluan sedangkan variasi kegiatan dapat berupa mendengarkan informasi, menelaah materi, diskusi, latihan atau demonstrasi dan lain-lain.

(Bersambung)


Tatmi
Guru & Praktisi PendidikaN
Berbakti, Berbagi dan Ikhlas

Ketrampilan Dasar Seorang Guru (2)

2. Keterampilan Memberi Penguatan

Andi (4 tahun) sedang membantu Dino (4 tahun) yang sedang menangis karena terjatuh. Andi tampak sedang mengusap-usap lutut Dino sambil terus menghibur Dino cup...cup... ngga apa-apa kan... nih... aku bersihkan lukanya...”. Dinopun berheti menangis. Ibu guru langsung menghampiri mereka berdua. ”Andi, kamu hebat sekali... kamu sudah membantu Dino. Kamu memang anak yang baik hati” Andipun tersenyum dan tampak bangga dengan perbuatannya.

Ilustrasi tersebut menggambarkan pujian yang disampaikan ibu guru terhadap perbuatan yang dilakukan Andi. Pujian tersebut dapat berpengaruh positif bagi Andi, bahkan juga bagi Dino. Sehingga selanjutnya mereka berdua akan mengulangi lagi perbuatan baik tersebut.

Dalam kegiatan pembelajaran penghargaan mempunyai arti penting. Tingkah laku dan perbuatan peserta didik yang baik diberikan senyuman atau kata-kata pujian sehingga menjadikannya sebagai penguatan terhadap tingkah laku dan perbuatan tersebut. Penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.

Tujuan pemberian penguatan dalam kegiatan pembelajaran antara lain:
a. meningkatkan perhatian peserta didik,
b. membangkitkan dan memelihara motivasi peserta didik,
c. memudahkan mereka belajar,
d. mengontrol dan memodifikasi tingkah laku yang kurang positif serta mendorong munculnya tingkah laku yang positif dan produktif.

Penguatan dapat diberikan dalam bentuk berikut.
a. Verbal, yaitu berupa kata-kata atau kalimat pujian, seperti: bagus, tepat sekali, hebat atau ”pekerjaanmu rapi sekali”.
b. Non verbal, misalnya berupa mimik dan gerakan badan, bergerak mendekati, dengan sentuhan, anggukan, token (pemberian sesuatu dengan simbol atau benda-benda kecil) dan kegiatan yang menyenangkan.

Namun seringkali, pendidik (orang tua dan guru) memberikan penguatan berupa hadiah. Misalnya jika Anak berhasil naik kelas maka diberikan handphone. Hal ini sebenarnya boleh-boleh saja... selama dilakukan hanya sesekali saja. Apabila hadiah selalu dijanjikan setiap kali anak melakukan suatu perbuatan baik, maka hal ini akan memungkinkan anak melakukan perbuatan baik hanya apabila ada hadianya. Misalnya, setiap anak didik yang bisa menjawab pertanyaan diberikan permen. Nah... pada kesempatan lain, anak yang orientasinya hanya untuk mendapat permen tidak akan menjawab pertanyaan jika ibu guru tidak menyediakan permen sebagai hadiahnya.
Oleh karena itu sebaiknya guru tidak selalu memberi penguatan berupa hadiah atau benda-benda. Berikanlah sesuatu yang benar-benar dapat memotivasi anak untuk terus berusaha agar semakin baik dan semakin berprestasi.

bersambung.. .


Tatmi
Guru & Praktisi PendidikaN
Berbakti, Berbagi dan Ikhlas
08161640309

Keterampilan Dasar Seorang Guru (1)

KETERAMPILAN DASAR SEORANG GURU

Tugas dan tanggung jawab seorang guru dalam pembelajaran sangatlah berat. Agar dapat menjalankan tugas, fungsi dan tanggung jawabnya tersebut harus memiliki berbagai keterampilan yang dapat membantu dan menunjang pengabdian pada pekerjaannya yaitu sebagai pengajar, pelatih dan pendidik. Keterampilan ini harus dimiliki oleh seorang guru agar dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan efektif, efisien dan optimal. Berikut ini akan disampaikan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru .

1. Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya sangat penting dikuasai oleh seorang guru karena hampir pada setiap kegiatan pembelajaran guru mengajukan pertanyaan dan kualitas pertanyaan guru menentukan kualitas jawaban yang diberikan peserta didik. Dengan menerapkan keterampilan bertanya yang efektif dan efisien dalam proses pembelajaran guru dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berpikir, memperoleh dan memperluas pengetahuan serta meningkatkan motivasi peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Ada beberapa hal yang mendasari pentingnya keterampilan bertanya dimiliki oleh seorang guru/calon guru, yaitu:
a. telah berakarnya kebiasaan mengajar dengan menggunakan metode ceramah yang cenderung menempatkan guru sebagai sumber informasi dan peserta didik menjadi penerima informasi yang pasif,
b. latar belakang kehidupan peserta dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang kurang biasa mengajukan pertanyaan dan mengeluarkan pendapat,
c. penggalakkan penerapan gagasan, yang menuntut keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran,
d. pandangan yang salah mengenai tujuan pertanyaan yang mengatakan bahwa pertanyaan hanya digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar.

Tujuan dari keterampilan bertanya dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
a. membangkitkan minat dan rasa ingin tahu;
b. memusatkan perhatian;
c. mendiagnosis kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat belajar;
d. mengembangkan cara belajar secara aktif;
e. memberi kesempatan untuk mengasimilasi informasi;
f. mendorong peserta mengemukakan pendapat dan pandangannya dalam diskusi;
g. mengukur dan menguji hasil belajar;

Keterampilan bertanya dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

a. keterampilan bertanya dasar
Keterampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan. Keterampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen yang harus dikuasai dan dipahami guru dalam upaya pencapaian tujuan mengajukan pertanyaan dalam pembelajaran. Komponen-komponen tersebut adalah:
1) pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang dipahami peserta. Gunakan susunan kata-kata yang sesuai dengan tingkat usia dan perkembangan peserta didik sehingga mereka akan mudah menemukan jawabannya.
2) memberikan acuan yang memungkinkan peserta memakai serta mengolah informasi itu untuk menemukan jawaban pertanyaan dan membantu anak tetap mengarahkan pikirannya pada tema pembelajaran.
3) memusatkan perhatian, pertanyaan yang diajukan biasanya menggiring pada persoalan atau pokok bahasan.
4) pemindahan giliran, cara ini dapat mempertinggi perhatian dan interaksi antar peserta didik karena tiap peserta didik harus memperhatikan jawaban temannya.Pertanyaan yang diajukan biasanya pertanyaan yang luas yang bisa dijawab oleh beberapa peserta.
5) penyebaran pertanyaan dilakukan untuk melibatkan peserta sebanyak-banyaknya dalam kegiatan pembelajaran. Pertanyaan yang diajukan secara bergilir kepada peserta secara acak.
6) pemberian waktu berpikir perlu diberikan beberapa detik agar peserta mempunyai kesempatan untuk berpikir sebelum seorang peserta diminta untuk menjawabnya. Sebutkan dahulu pertanyaannya baru kemudian menunjuk peserta yang harus menjawabnya dan jangan sebaliknya menunjuk nama peserta yang harus menjawab kemudian baru menyebutkan pertanyaannya.
7) pemberian tuntunan dilakukan bila peserta tidak bisa atau salah menjawabnya . Tuntunan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: a) mengungkapkan pertanyaan dengan cara lain, b) menyederhanakan pertanyaan, dan c) mengulangi penjelasan sebelumnya yang berhubungan dengan pertanyaan tersebut.

b. keterampilan bertanya lanjut
keterampilan bertanya lanjut merupakan lanjutan dari keterampilan bertanya dasar yang lebih mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik, memperbesar partisipasi dan mendorong peserta agar dapat berinisiatif sendiri. Keterampilan bertanya lanjut terdiri dari beberapa komponen sebagai berikut.
1) pertanyaan yang diajukan hendaknya jangan bersifat hafalan saja tetapi menuntut kemampuan kognitif yang lebih tinggi;
2) pertanyaan hendaknya disusun dari tingkat kognitif yang rendah ke tingkat kognitif yang lebih tinggi;
3) gunakan pertanyaan pelacak untuk menggali pikiran dan penguasaan peserta didik. Pertanyaan pelacak adalah pertanyaan yang diajukan agar jawaban yang diberikan anak menjadi lebih sempurna. Terdapat beberapa teknik pertanyaan pelacak yang dapat digunakan oleh guru, yaitu:
a) klarifikasi yaitu pertanyaan yang meminta peserta untuk menjelaskan jawabannya dengan kata-kata lain sehingga jawabannya menjadi lebih baik. Misalnya: ”dapatkah kamu jelaskan sekali lagi apa yang kamu maksud tadi?”;
b) meminta peserta memberikan alasan atau bukti yang menunjang kebenaran pandangan yang diberikan ketika menjawab pertanyaan guru. Misalnya: ” apa buktinya bahwa apa yang kamu katakan itu benar? Atau mengapa kamu mengatakan demikian?”;
c) meminta kesepakatan pandangan dengan cara memberi kesempatan kepada peserta lainnya untuk menyatakan persetujuan atau penolakan serta memberikan alasan terhadap sustu pandangan yang disampaikan oleh seorang peserta. Misalnya: ” siapa yang setuju/tidak setuju dengan pendapat itu? Mengapa?”;
d) meminta ketepatan jawaban dilakukan bila jawaban anak belum tepat. Guru dapat meminta peserta untuk meninjau kembali jawabannya;
e) meminta jawaban yang lebih relevan agar anak dapat memberi jawaban yang lebih sesuai dengan topik yang dibicarakan.
f) meminta contoh dari anak untuk memberikan ilustrasi atau contoh konkret dari jawaban peserta yang terlalu luas;
g) meminta jawaban yang lebih kompleks. Misalnya: ”dapatkah kamu memberikan saran yang lain tentang kegiatan bertamasya yang akan kita lakukan?”
4) meningkatkan interaksi antara guru dan anak didik atau antar anak didik.




TATMI
Guru & Praktisi PendidikaN
"Mengabdi, berbagi dan Ikhlas"
08161640309

Surat untuk Ibu Guru

Surat Untuk Ibu Guru


Ibu, baktimu sungguh tak terhingga
Menjadikanku terbuka mata, telinga dan hati
Menumbuhkan cinta bakti dan cita-cita
Siap berlayar ke samudra kehidupan
Doa dan cintamu cahaya hidupku

Ibu, lepaskan aku dengan keikhlasanmu
Lambaian tanganmu mendorong semangatku
Jangan biarkan air mata menetes di pipimu
Kan membuat berat langkah kaki
Aku harus pergi menggapai asa
Mencari jati diri, merangkai butir-butir ilmu
Mencoba mencari kebenaran dunia pada sebutir pasir
Membuka kejujuran pada kedalaman laut

Ibu, genggamlah tanganku 'tuk terakhir kali
Menguatkan rasa percaya diri
Terima kasih dan selamat tinggal
Aku akan kembali dengan segenggam bakti
Nantikan aku......... Ibu guru tercinta


Tatmi
Juli 2008
Tuk: teman-teman ku guru-guru TK Ananda-UT
terus berjuang dan berbakti....