Kamis, 14 Agustus 2008

Diskalkulia; Gangguan Kesulitan Berhitung

Diskalkulia
Gangguan Kesulitan Berhitung

Ilustrasi:
“Ibu Dewi, orang tua Denny (4 tahun) merasa sangat gelisah karena Denny belum bisa berhitung seperti teman-temannya. Denny tampak sangat kesulitan apabila dimunta menjumlahkan dan menghitung benda-benda. Ibu Dewi kuatir, apakah Denny termasuk anak yang bodoh? Ibu Siska lain lagi masalahnya. Ia merasa sangat kuatir karena Siti (4,5 tahun) anaknya sampai saat ini belum dapat membaca jam atau belum mengenal konsep waktu. Siti sering binggung menyatakan pagi, siang atau malam, kemarin, sekarang dan besok. Ibu Siska berpikir, Apakah Siti termasuk anak yang bodoh?”

Ilustrasi tersebut menggambarkan sebagian kecil orang tua yang merasa gundah karena anaknya tidak bias berhitung atau mengenal konsep tertentu. Mereka kuatir jika anaknya termasuk dalam kategori anak yang bodoh. Hal ini disebabkan karena masyarakat memandang berhitung salah satu indicator kecerdasan seseorang. Dan berhitung juga merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seseorang karena dalam kehidupan sehari-hari kita akan selalu berhadapan dengan angka-angka atau hitungan. Selain itu, banyak sekolah (guru) yang member “label” bodoh pada anak yang tidak pandai matematika atau berhitung. Nah pembahasan kali ini akan m,engupas tentang gangguan kesulitan berhitung yang disebut Diskalkulia.

A. Apa Sebenarnya Diskalkulia Itu?
Menurut Jacinta F. Rini, M.Psi, dari Harmawan Consulting, Jakarta(Tabloid Nakita), diskalkulia dikenal juga dengan istilah "math difficulty" karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara kuantitatif yang terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung (counting) dan mengkalkulasi (calculating). Anak yang bersangkutan akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses matematis. Hal ini biasanya ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang melibatkan angka ataupun simbol matematis. Banyak anak-anak yang terdiagnosis diskalkulia memiliki riwayat kegagalan akademis yang pada akhirnya berkembang menjadi ketidakmampuan belajar matematika atau merasa tidak mampu mempelajarinya (Kontribusi dari Seputar Indonesia, 15 Maret 2007). Sumber lainnya menyebutkan bahwa diskalkulia berasal dari bahasa Yunani. Dys artinya ‘tuna’. Calculus artinya ‘kerikil’, manik, dekak, atau kelereng. Mungkin karena zaman purba orang berhitung dengan alat bantu batu kerikil maka dari sinilah istilah discalculia tersebut berasal. Artinya, sedikit bodoh dalam soal hitung-hitungan.

Diskalkulia adalah gangguan belajar yang mengakibatkan gangguan dalam berhitung. Kelainan berhitung ini meliputi kemampuan menghitung sangat rendah, tidak mempunyai pengertian bilangan, bermasalahan dalam bahasa berhitung, tidak bisa mengerjakan simbol-simbol hitungan, dan ganguan berhitungh lainnya. Bisa karena kelainan genetik atau karena gangguan mekanisme kerja di otak. Gangguan Berhitung merupakan suatu gangguan perkembangan kemampuan aritmetika atau keterampilan matematika yang jelas mempengaruhi pencapaian prestasi akademikanya atau mempengaruhi kehidupan sehari-hari anakDari penelitian para ahli ternyata diskalkulia tidak ada hubungan langsung dengan tingkat inteligensi. Penyebabnya lebih karena disfungsi bagian syaraf tertentu di otak manusia. Mengapa sampai terjadi disfungsi juga berbeda-beda sebabnya. Dalam kasus tertentu bisa saja disebabkan pada waktu kecil pernah mengalami hyperthermia atau panas tubuh terlalu tinggi sehingga harus dimasukkan ke cooling chamber. Akibatnya, mungkin terjadi cedera pada bagian syaraf otak tersebut. Diskalkulia juga ada sebagian yang sifatnya warisan turun temurun karena defeksi pada sel DNA tertentu.

Diskalkulia ada hubungannya juga dengan disleksia. Dislexia berasal dari kata Yunani. Kata dys artinya ‘tuna’; dan kata lexis artinya ‘kata’. Disleksia juga ada berbagai sebabnya. Kalau disleksia mulai saat masa anak-anak maka umumnya disebabkan oleh cedera syaraf otak bagian tertentu. Prof. Li-Hai Tan, seorang pakar linguistik dan ilmu-ilmu kognitif pada University of Hong Kong sampai pada penemuan yang menarik. Ternyata disleksia pada anak-anak yang belajar bahasa lewat aksara Latin berbeda lokasi cederanya dibandingkan dengan mereka yang belajar bahasa bercorak piktograf seperti aksara Mandarin. Keduanya memang sama-sama disebabkan oleh cedera pada syaraf otak hemisfir kiri. Tetapi berbeda lokalitasnya. Pada anak-anak pelajar aksara Latin cedera tersebut terjadi pada bagian otak temporal-parietal. Parietal, artinya bagian otak sebelah atas sampai belakang. Sedangkan pada anak-anak yang belajar aksara piktograf cedera terjadi pada bagian bawah gyrus (lipatan) otak temporal-oksipital. Temporal artinya bagian bawah; dan oksipital artinya bagian belakang (Wikipedia, Discovery Channel, www.faculty.wasington.edu; www.health.howstuffworks.com/question666.htm. JS)

B. Bagaimana Gejala atau Ciri-ciri Diskalkulia?
Penderita diskalkulia umumnya anak-anak, tetapi tidak secara spesifik menyerang tingkat usia tertentu. Gangguan ini terutama terjadi pada saat anak menginjak umur sekolah sekitar usia 7 tahun. Diskalkulia dapat terdeteksi pada usia tersebut karena pada saat itu anak mulai sekolah dan belajar berhitung.

Penderita diskalkulia umumnya memiliki IQ normal, namun ada juga yang IQ nya melebihi rata-rata atau cukup tinggi. Anak diskalkulia dapat berinteraksi normal seperti anak biasa, komunikasi dan sosialisasi dengan lingkungan di sekitarnya. Artinya dia dapat hidup dengan baik meskipun mengalami kesulitan dalam berhitung. Persoalan yang dihadapi anak dengan diskalkulia lebih pada kehidupannya sehari-hari. Seperti sulit menentukan arah ke kiri atau ke kanan, membaca jam, menghitung uang kembalian atau uang yang harus dibayarkan saat belanja. Beberapa hal berikut dapat digunakan untuk melihat gejala atau ciri-ciri diskalkulia.
1. Tingkat perkembangan bahasa dan kemampuan lainnya normal, malah seringkali mempunyai memori visual yang baik dalam merekam kata-kata tertulis.
2. Sulit melakukan hitungan matematis. Contoh sehari-harinya, ia sulit menghitung transaksi (belanja), termasuk menghitung kembalian uang. Seringkali anak tersebut jadi takut memegang uang, menghindari transaksi, atau apa pun kegiatan yang harus melibatkan uang.
3. Sulit melakukan proses-proses matematis, seperti menjumlah, mengurangi, membagi, mengali, dan sulit memahami konsep hitungan angka atau urutan.
4. Terkadang mengalami disorientasi, seperti disorientasi waktu dan arah. Si anak biasanya bingung saat ditanya jam berapa sekarang. Ia juga tidak mampu membaca dan memahami peta atau petunjuk arah.
5. Mengalami hambatan dalam menggunakan konsep abstrak tentang waktu. Misalnya, ia bingung dalam mengurut kejadian masa lalu atau masa mendatang.
6. Sering melakukan kesalahan ketika melakukan perhitungan angka-angka, seperti proses substitusi, mengulang terbalik, dan mengisi deret hitung serta deret ukur.
7. Mengalami hambatan dalam mempelajari musik, terutama karena sulit memahami notasi, urutan nada, dan sebagainya.
8. Bisa juga mengalami kesulitan dalam aktivitas olahraga karena bingung mengikuti aturan main yang berhubungan sistem skor.

Tanda-tanda lainnya yang dapat diamati, adalah:
1. Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, = 2. Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan, 3. Sering salah membilang dengan urut, 4. Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya, 5. Sulit membedakan bangun-bangun geometri. Selain gejala tersebut, diskalkulia dapat pula diamati tanda-tanda seperti berikut ini. 1. Proses penglihatan atau visual lemah dan bermasalah dengan spasial (kemampuan memahami bangun ruang). Dia juga kesulitan memasukkan angka-angka pada kolom yang tepat. 2. Kesulitan dalam mengurutkan, misalkan saat diminta menyebutkan urutan angka. Kebingungan menentukan sisi kiri dan kanan, serta disorientasi waktu (bingung antara masa lampau dan masa depan). 3. Bingung membedakan dua angka yang bentuknya hampir sama,misalkan angka 7 dan 9, atau angka 3 dan 8. Beberapa anak juga ada yang kesulitan menggunakan kalkulator. 4. Umumnya anak-anak diskalkulia memiliki kemampuan bahasa yang normal (baik verbal, membaca, menulis atau mengingat kalimat yang tertulis). 5. Kesulitan memahami konsep waktu dan arah.Akibatnya,sering kali mereka datang terlambat ke sekolah atau ke suatu acara. 6. Salah dalam mengingat atau menyebutkan kembali nama orang. 7. Memberikan jawaban yang berubah-ubah (inkonsisten) saat diberi pertanyaan penjumlahan, pengurangan, perkalian atau pembagian. 8. Kesulitan membaca angka-angka pada jam, atau dalam menentukan letak seperti lokasi sebuah negara, kota, jalan dan sebagainya 9. Sulit memahami not-not dalam pelajaran musik atau kesulitan dalam memainkan alat musik. Koordinasi gerak tubuhnya juga buruk, misalkan saat diminta mengikuti gerakan-gerakan dalam aerobik dan menari. Dia juga kesulitan mengingat skor dalam pertandingan olahraga Orang dengan diskalkulia tidak bisa merencanakan keuangannya dengan baik dan biasanya hanya berpikir tentang keuangan jangka pendek.Terkadang dia cemas ketika harus bertransaksi yang melibatkan uang (misalkan di kasir). C. Apa Penyebab Diskalkulia? Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi gangguan ini, di antaranyaadalah sebagai berikut. 1. Kelemahan pada proses penglihatan atau visual; Anak yang memiliki kelemahan ini kemungkinan besar akan mengalami diskalkulia. Ia juga berpotensi mengalami gangguan dalam mengeja dan menulis dengan tangan. 2. Bermasalah dalam hal mengurut informasi; Seorang anak yang mengalami kesulitan dalam mengurutkan dan mengorganisasikan informasi secara detail, umumnya juga akan sulit mengingat sebuah fakta, konsep ataupun formula untuk menyelesaikan kalkulasi matematis. Jika problem ini yang menjadi penyebabnya, maka anak cenderung mengalami hambatan pada aspek kemampuan lainnya, seperti membaca kode-kode dan mengeja, serta apa pun yang membutuhkan kemampuan mengingat kembali hal-hal detail. 3. Fobia matematika; Anak yang pernah mengalami trauma dengan pelajaran matematika bisa kehilangan rasa percaya dirinya. Jika hal ini tidak diatasi segera, ia akan mengalami kesulitan dengan semua hal yang mengandung unsur hitungan. D. Bagaimana Cara Penanggulangannya Diagnosa diskalkulia harus dilakukan oleh spesialis yang berkompeten di bidangnya berdasarkandan harus dilakukan melalui serangkaian tes dan observasi yang valid dan terpercaya. Bentuk terapi atau treatment yang akan diberikan harus berdasarkan evaluasi terhadap kemampuan dan tingkat hambatan anak secara detail dan menyeluruh. Bagaimanapun, kesulitan ini besar kemungkinan terkait dengan kesulitan dalam aspek-aspek lainnya, seperti disleksia. Perbedaan derajat hambatan akan membedakan tingkat treatment dan strategi yang diterapkan. Selain penanganan yang dilakukan ahli, pendidik disarankan melakukan beberapa latihan yang dapat mengurangi gangguan belajar, antara lain sebagai berikut. 1. Visualisasikan konsep matematis yang sulit dimengerti, dengan menggunakan gambar ataupun cara lain untuk menjembatani langkah-langkah atau urutan dari proses keseluruhannya. Atau suarakan konsep matematis yang sulit dimengerti dan minta si anak mendengarkan secara cermat. Biasanya anak diskalkulia tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara verbal. 2. Tuangkan konsep matematis ataupun angka-angka secara tertulis di atas kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekadar abstrak. Atau kalau perlu, tuliskan urutan angka-angka itu untuk membantu anak memahami konsep setiap angka sesuai dengan urutannya. 3. Tuangkan konsep-konsep matematis dalam praktek serta aktivitas sederhana sehari-hari sehingga menjadi lebih menarik. Misalnya, berapa jumlah pintu yang ada di rumah, berapa jumlah koleksi bonekanya, berapa jumlah kursi makan yang diperlukan jika disesuaikan dengan anggota keluarga yang ada, dan bias juga menggunakan computer atau kalkulator dan lakukanlah latihan secara berkesinambungan serta teratur. 4. Sering-seringlah mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, entah dengan cara menyanyikan angka-angka, atau cara lain yang mempermudah menampilkan ingatannya tentang angka. 5. Pujilah setiap keberhasilan, kemajuan atau bahkan usaha yang dilakukan oleh anak. 6. Lakukan proses asosiasi antara konsep yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga anak mudah memahaminya. 7. Jalin kerja sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan strategi belajar di kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misalnya, guru memberi saran tertentu pada orang tua dalam menentukan tugas di rumah, buku-buku bacaan, serta latihan yang disarankan. DAFTAR PUSTAKA Direktorat PLS Pendidikan Sekolah Luar Biasa, Depdiknas (2006), “Pengembangan Kurikulum Dalam Pendidikan Insklusif”. Jakarta: DitPLB. Daria Rani, (2008). Diskalkulia, Gangguan Kesulitan Berhitung: Kartini no.2222/10 s/d 24 Juli 2008. Jakarta: PT Ghalia Indonesia. Juswan Setyawan, (2008). “Mengenal Malfungsi Discalculia dan Dislexia” kabarindonseia.com 18 April 2008. Kontribusi dari Seputar Indonesia, (2007) Diskalkuli; Kontribusi dari Seputar Indonesia - Terakhir diperbaharui (Kamis, 15 Maret 2007) Marfuah Panji Hastuti, (….). “Mengenal Gangguan Kesulitan Belajar Diskalkulia dan Disgrafia, Tabloid Nakita (Panduan)”. http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05233-02.htm

Widodo Judarwanto, (2007). “Permasalahan Umum Kesehatan Anak Usia Sekolah” Disampaikan pada Seminar Ilmiah Populer Kesehatan Anak Usia Sekolah "School Age Parent":Milist Balita Kita.

Wikipedia, Discovery Channel, http://www.faculty.wasington.edu/; www.health.howstuffworks.com/question666.htm.JS
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=3&dn=20080418112834
http://indonesia.smksakti.sch.id/ – Situs SMK Sakti Gemolong Sragen Jawa TengahPowered by Mambo
http://www.google.co.id/search?hl=id&q=diskalkulia&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=cr%3DcountryID
http://www.ditplb.or.id/2006/index.php?menu=profile&pro=55
http://www.jokam.com/comment.php?comment.news.520



Tatmi
Guru dan Praktisi PendidikaN
Belajar darimanapun, siapapun dan kapanpun

Tidak ada komentar: